12 Macam Pesugiah Di Tanah Jawa

12 macam pesugihan yang ada di tanah jawa

Pesugihan adalah jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan dan kekayaan adalah jalan pintas untuk mendapatkan apapun didunia ini, baik itu harta, tahta dan wanita.

 

Berikut ini adalah macam-macam pesugihan yang terdapat di Indonesia khususnya di tanah jawa.

 

  1. Pesugihan Kabongan

    Pesugihan
    Pesugihan

Pesugihan kabongan terletak di daerah Rembang. Pesugihan ini adalah pesugihan yang cocok untuk lelaki hidung belang karena syaratnya sangat mudah, yaitu bersedia menjadi suami penunggu makam yang bernama Nyai Cempoko, dan melakukan senggama setiap malam Jumat Kliwon dan menyediakan sesaji setiap harinya. Dengan begitu Nyai Cempoko akan  memberikan harta yang berlimpah.

 

Konon, para peziarah banyak yang dikabulkan keinginannya sehingga mereka menjadi kaya raya.

 

  1. Pesugihan Nyi Blorong

 

Pesugihan Nyi Blorong sangat terkenal karena telah dibikinkan filmnya. Orang yang melakukan pesugihan Nyi Blorong harus bersedia bercinta dengan Nyi Blorong yang berbentuk Ular.

Dan dari percintaan tersebut, sisik-sisik Nyi Blorong yang berbentuk emas permata berjatuhan dan itu yang membuat orang menjadi kaya raya.

  1. Pesugihan Tuyul

 

Untuk bisa memelihar tuyul biasanya lewat seorang dukun atau pawang tuyul.

Tuyul adalah makhluk halus berwujud anak kecil atau orang kerdil dengan kepala gundul. gambaran lainnya yang tidak disepakati semua orang adalah kulit berwarna keperakan, bersifat sosial.

Tuyul dapat disuruh untuk mencuri uang oleh orang yang memeliharanya. Seperti pesugihan lain, memelihara tuyul juga memiliki syarat tertentu yang harus dipatuhi. Biasanya tuyul akan menyusu pada istri dari orang yang memeliharanya. Sebenarnya tuyul bukan menyedot susu dari istri pemilik tuyul tersebut tapi menyedot darah sehingga istri si pemilik tuyul tersebut lama kelamaan pucat dan penyakitan dan akhirnya mati.

Kejadian tuyul dipercaya berasal dari janin orang yang keguguran atau bayi yang mati ketika lahir, sehingga sifatnya seperti anak-anak, gemar bermain.

 

Tuyul Bibir Vertikal adalah jenis tuyul yang paling banyak dipelihara orang, biasanya tuyul ini hidup bersama sang majikan.

 

  1. Pesugihan Sate Gagak

Di kalangan pelaku spritual, ada teknik khusus untuk mengais rupiah di tengah kuburan. Caranya, dengan berjualan sate gagak kepada arwah gentayangan. Konon, penghuni makam di lereng Gunung Bugel, Rembang pernah membeli sate gagak sampai Rp. 30 juta dalam semalam.

 

Untuk menjadi pedagang sate bagi arwah gentayang, yang diperlukan adalah burung gagak hitam yang masih hidup, minyak Arrohman, serta kemenyan. Dan syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah keberanian untuk bertemu dengan para lelembut dari berbagai rupa.

 

Pada tengah malam yang telah ditentukan, burung gagak harus dibawa ke makam yang akan dijadikan lahan berdagang. Sesampainya di tempat yang dituju, baca doa-doa khusus untuk membuka alam gaib, sambil membakar kemenyan. Tunggu sampai gagak yang dibawa berkoak-koak.

 

Ketika burung itu berbunyi, pada saat itulah momen yang paling tepat untuk menyembelih burung gagak itu. Bersihkan bulu-bulu yang menghiasi tubuhnya, lalu olesi dengan minyak Arrahman. Kemudian potong daging burung sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Bakarlah daging itu layaknya sate biasa.

 

Pada saat bersamaan, para pembeli sate akan berdatangan. Mereka adalah arwah gentayangan dengan wujud yang beraneka rupa. Ada yang kakinya patah atau remuk, wajahnya rusak dengan darah yang mengalir deras, atau kakinya tinggal sebelah karena kaki yang lain terlepas. Pendeknya, wujud mereka sangat menakutkan dengan bau anyir darah yang mrenyengat.  Mereka berdatangan untuk merebut sate gagak yang dijual. Berapa pun harganya mereka akan membeli sate yang dijual itu.

 

 

  1. Pesugihan Lereng Merapi

Tempat yang dikenal dengan nama Watu Tumpeng itu dipercaya memiliki kekuatan gaib, berada di kawasan Cangkringan, Sleman Yogyakarta, selalu dipenuhi berbagai sesaji. Banyak peziarah melantunkan berbagai permintaan, mulai kenaikan pangkat, ilmu kanuragan sampai pesugihan.  Setiap malam Jumat Kliwon, orang memasang sesaji jajan pasar dan kembang tujuh rupa, lantas berdoa minta berbagai permohonan.

 

Menurut Jurukunci Watu Gunung, gundukan tanah itu bukan kuburan manusia, melainkan gajah tunggangan Kerincing Wesi saat menjaga Gunung Merapi.  Konon, Kerincing Wesi berubah menjadi raksasa setelah makan telur naga Kiai Jagad, lantas ditugaskan menjaga Gunung Merapi. Untuk menjalankan tugas, ia menerima seekor gajah dari Panembahan Senopati. Ketika gajah itu mati, Kerincing Wesi menguburkannya di lereng Merapi.

Pada malam-malam tertentu, sering terdengar lenguhan gajah. Malah, ada warga yang mengaku melihat binatang itu melintas. Bagi peziarah, apa atau siapa yang berada di dalam kuburan itu, tidak menjadi masalah. Yang penting, tempat itu mempunyai kekuatan gaib yang menjanjikan perubahan nasib.

 

  1. Pesugihan Munding Seuri

Terletak di kawasan Gunung Gede, Cibodas. Di sebelah Tenggara, dipercaya masyarakat sebagai tempat bersemayamnya Raden Surya Kencana, putra Raden Aria Wiranatudatar, pendiri kota Cianjur yang beristrikan mahkluk halus.

 

Di kawasan Tenggara ini pula, ada sebuah gubuk yang didalamnya terdapat gundukan mirip makam. Tempat yang disebut padepokan ini menjadi tempat orang yang mencari pesugihan. Namun laku hanya bisa dilakukan saat bulan purnama. Jika tidak, konon segala upaya yang dilakukan akan sia-sia.

 

  1. Pesugihan Bulu Genderuwo

Pesugihan bulu gendruwo memang kurang populer di masyarakat. Alasannya, untuk mendapatkan cukup sulit. Si peminat harus menyediakan masakan dari burung gagak yang diletakkan di bawah pohon gayam dan bertelanjang bulat.

 

Menurut beberapa orang yang telah mendapatkan pesugihan bulu gendruwo, meski mendapatkannya cukup sulit, pesugihan ini dipilih lantaran tidak terlalu berbahaya. Tidak minta tumbal orang atau nyawa.

Yang diperlukan hanyalah masakan burung gagak serta pohon gayam. Di kota metropolitan seperti Jakarta, pohon gayam sulit ditemukan. Makanya para peminat kebanyakan pergi ke desa-desa di pelosok Pulau Jawa.

Setelah masakan siap, saat matahari bersembunyi, peminat harus membawa makanan itu ke pohon gayam yang telah ditentukan. Kemudian ia harus membuka seluruh pakaiannya. Biasanya dalam waktu yang tidak begitu lama, gendruwo yang dilukiskan berwajah menakutkan dan sekujur tubuhnya dipenuhi bulu-bulu, akan muncul.

Gendruwo tersebut akan melahap makanan yang dibawakan si peminat. Saat itulah, si peminat dituntut kelincahannya. Mereka harus mampu mengambil minimal satu bulu di tubuh gendruwo.

 

Jika beruntung, maka si peminat akan mendapatkan bulu yang diinginkannya. Tapi jika tidak, bisa jadi ia malahan akan dimangsanya. Karena itu, orang yang gagal biasanya enggan mencoba lagi. Takut kalau-kalau malahan kehilangan nyawa.

Orang yang berhasil mendapatkan bulu, biasanya mudah mendapatkan kekayaan. Rejeki akan mengalir bak air bah. Tak tertahankan lagi.

 

  1. Pesugihan Gunung Kemukus

Dikisahkan Pangeran Samudro (ada yang menyebut bangsawan ini berasal dari Majapahit, ada pula yang menduga dari zaman Pajang), jatuh cinta kepada ibunya sendiri (Dewi Ontrowulan). Ayahanda Pangeran Samudro yang mengetahui hubungan anak-ibu tersebut menjadi murka dan kemudian mengusir Pangeran Samudro.

 

Dalam kenestapaannya, Pangeran Samudro mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana, akhirnya ia sampai ke Gunung Kemukus. Tak lama kemudian sang ibunda menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan.

 

Namun sial, sebelum sempat ibu dan anak ini melakukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua yang kemudian merajamnya secara beramai-ramai hingga keduanya meninggal dunia. Keduanya kemudian dikubur dalam satu liang lahat di gunung itu juga. Namun menurut cerita, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan yaitu kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya.

 

Konon selengkapnya ia berujar demikian, “Baiklah aku menyerah, tapi dengarlah sumpahku. Siapa yang mau meniru perbuatanku , itulah yang menebus dosaku dan aku akan membantunya dalam bentuk apapun”.

 

  1. Pesugihan Tukar Janin

Tukar janin adalah suatu proses pemindahan janin tersebut untuk diberikan kebangsa jin perempuan yang menginginkan keturunan. Dalam prosesinya jika wanita itu berhasil negosiasi dan anaknya di ikhlaskan untuk mereka(bangsa jin) rawat sebagai anaknya dengan catatan pantangannya tidak boleh diharap-harap lagi, maka bangsa jin tersebut akan memberikan imbalan berupa uang /perhiasan sebagai tanda keikhlasan pelaku ritual tersebut.

  1. Pesugihan Tukar Istri

Pesugihan ini yang menjadi tumbalnya adalah isteri atau suami, biasanya orang yang menjalankan ritual adalah orang yang sakit hati karena suami atau isterinya berselingkuh.

Tempat yang sering dijadikan lokasi ritual ini adalah Goa Susuh Angin di Gunung Kuncen lereng Gunung Merbabu, namun hati-hati karena di daerah ini berlaku petuah masyarakat “Jelma Mara Jelma Mati”

  1. Pesugihan Tukar Guling

    Orang seringkali keliru dengan menganggap pesugihan ini sama dengan Pesugihan Tukar Isteri, padahal dari Tumbalnya saja sangat berbeda.  Pada Pesugihan Tukar Guling ini Tumbal yang diminta adalah nyawa musuh dari orang yang meminta pesugihan.  pesugihan ini juga terdapat di Gua Susuh Angin.12. Ngipri atau ngepet

Pada Pesugihan Ngipri ini, penganutnya pada malam-malam tertentu dapat berubah menjadi sosok binatang ghaib sesuai dengan perjanjiannya pada saat meminta pesugihan, biasanya bisa berupa babi, Monyet, Ular, Kucing, dll