Manisnya Jadi Tukang Pijat Urut

Posted on

Manisnya Jadi Tukang Pijat Urut

Kebanyakan orang melihat tukang pijat atau tukang urut adalah orang yang tidak punya pekerjaan dan akhirnya menjadi tukang pijat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak orang yang memandang sebelah mata

Manisnya Jadi Tukang Pijat Urut
Manisnya Jadi Tukang Pijat Urut

terhadap profesi tukang pijat urut yang banyak di dominasi oleh para tuna netra ini, padahal jadi tukang pijat urut untuk mengembalikan kebugaran atau memperbaiki otot yang keseleo sangat prospektif masa depannya.

Kalau sudah terkenal atau sudah di kenal oleh lingkungan sekitar, jadi tukang pijat urut sangat menjanjikan. Contoh gampangnya adalah para tuna netra yang mampu menyewa tempat atau kios untuk membuka usaha pijat urut mereka. Itu artinya mereka memiliki penghasilan yang bisa menutup sewa tempat atau kios yang mereka tempati.

Di kampung saya di Gombong Kabupaten Kebumen ada seorang tukang pijat yang memilki waiting list pijat. Jadi untuk beberapa hari ke depan sudah di pesan mau pijat kemana. Apalagi kalau mendekati musim liburan, semisal lebaran, waiting list pijatnya sampai berminggu-minggu.

Berapa bayaran tukang pijat? Ini tahun 2018 kalau orang pijat urut di Gombong, khususnya saya pribadi minimal mambayar tukang pijat tersebut sebesar seratus ribu rupiah, kalau kurang dari itu rasanya malu. Bayaran tukang pijat sebenarnya di tentukan sendiri oleh setiap individu pemakai jasa tukang pijat urut tersebut. Namun semakin enak pijatannya semakin banyak yang memakai jasanya dan semakin mahal pula tarif pijatnya.

 

Saat ini kerja buruh di kampung dan kota adalah sekitar seratus ribuan. Tukang pijat tersebut keluar pagi dan bisa jadi pulang malam hari memenuhi panggilan pijat urut para pelanggannya. Hitungan gampangnya adalah jika dalam sehari memijat lima orang sudah tentu dalam sehari lima ratus ribu rupiah sudah di tangan. Coba bayangkan, mau cari dimana uang sebesar lima ratus ribu rupiah tersebut di desa? Nyari uang sepuluh ribu rupiah saja susahnya setengah mati. Jangankan nyari uang sebesar itu di kota kecil seperti di Gombong, di kota Jakarta saja susahnya setengah mati.

Karena sudah berlangganan pijat pada tukang pijat urut tersebut, sedikit banyak saya tahu seberapa sibuk dia. Bahkan saking dekatnya saya di tawari untuk menggunakan ilmunya menjadi tukang pijat di Jakarta namun saya menolak. Saya sendiri pernah menjalani sebagai tukang pijat urut ketika menjalani pendidikan Bela Negara. Dalam sehari bisa memijat lima orang. Dan apa yang terjadi? Jari-jari saya rasanya kram dan capai sekali.

Berbeda dengan kebanyakan para tukang pijat urut yang menggunakan “ilmu” atau “prewangan” dalam memijat pasiennya sehingga sebanyak apapun memijat orang tidak akan terasa capai, berbeda dengan saya yang masih menggunakan tenaga asli.

Di jawa tukang pijat biasanya adalah karena factor keturunan dan ilmu, ada juga yang mengikuti kursus pijat. Jaman dahulu semua orang beranggapan bahwa orang bisa memijat dengan enak adalah mereka yang memiliki keturunan dari orang tua tukang pijat atau orang yang memiliki ilmu memijat hasil dari riyadoh atau tapa brata.

Ibu saya pernah berusaha mendapatkan ilmu pijat dan nyantri di sebuah pesantren di Jawa Timur dan akhirnya gagal. Walaupun Ibu saya sudah mengabdikan diri di pesantren tersebut namun karena tidak punya factor keturunan tetap saja gagal mendapatkan ilmu pijat. Padahal dengan ilmu gerak rasa memijat itu mudah.

Oh ya, saat ini banyak sekali kursus pijat urut dan refleksi yang boleh Anda coba karena jadi tukang pijat refreksi juga sangat menjanjikan prospeknya. Yang penting Anda serius dalam belajar dan bekerja dan jangan malu-malu, insya Alloh rejeki akan mengalir melebihi buruh tani atau tukang cangkul.

Kalau Anda mau tambah juga ilmu Anda dalam memijat urut dengan ilmu Thibbun Nabawi  semisal bekam. Syukur-syukur Anda belajar pengobatan herbal dan lainnya. Insya Alloh, Anda tidak akan kekurangan.

Jangan lupa dalam berusaha untuk berdoa dan terus menambah ilmu yang mendukung profesi tukang pijat urut.

Selamat berjuang, semoga sukses.