Pengalaman Unik Dan Menarik Selama Umroh

Saya belajar banyak dari nenek-nenek tersebut. Sudah sangat tua, jalan saja susah namun semangatnya luar biasa untuk ibadah sehingga dia pergi sendiri ke Masjidil Haram, dan lagi si nenek tersebut bisa menyelesaikan tawaf wada tanpa menggunakan kursi roda. Sudah tentu dibantu oleh jamaah yang lain namun melihat kondisinya yang begitu tua dan renta adalah sangat luar biasa melihat nenek tersebut menyelesaikan tawaf wada.

Jangan Menindas Untuk Ibadah

Banyak orang yang kehilangan makna dari ibadah yang dia lakukan. Ini juga salah satu yang saya pegang ketika umrah, jangan menindas untuk beribadah. Percuma saja kita beribadah kalau hati masih kotor. Percuma saja kalau kita beribadah di tempat-tempat yang mustajab kalau ada saudara kita yang tetindas entah secara sadar atau tidak.

Contohnya adalah ketika kita mencoba untuk mencium hajar aswad dan berdoa di Multazam. Mencium hajar aswad yang tidak ada keutamaannya kecuali mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW saja banyak  yang sikut-sikutan dan mengumbar amarah. Pertama saya mencoba mendekati Hajar Aswad dari sebelah kiri. Sudah sangat dekat namun akhirnya terlempar. Saya mencari jalan yang lain. Lewat sebelah kiri tidak bisa saya coba lewat sebelah kanan. Prinsip saya kalau benar saya adalah tamu Allah maka mencium hajar Aswad adalah mudah tanpa harus mengeluarkan tenaga dan sikut-sikutan. Mendekati Hajar Aswad memang sangat berdesak-desakan namun saya sama sekali tidak pernah menyikut kanan kiri. Saya hanya mengikuti arus saja. Saya mencontoh ini dari sesepuh Majlis Dzikir Tawakal. Saya didorong dari belakang dan mengikuti aru dan Alhamdulillah sampai juga didepan lubang Hajar Aswad sementara disebelah kiri kanan saya banyak orang berdesakan. Di sebelah kiri saya terlihat seorang India yang sedang adu mulut padahal dia sudah memegangi mulut Hajar Aswad. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk memasukan kepala saya ke lubang Hajar Aswad dan mecipoknya tiga kali sambil mengucapkan sholawat Nabi. Setelah itu saya segera pergi.

Disamping mendekati Hajar Aswad yang membutuhkan tenaga, mendekati Multazam juga sangat berdesakan. Saya kembali menguji prinsip saya, kalau saya benar tamu Allah maka semua akan jadi gampang dan tidak perlu mengeluarkan tenaga menyikut dan menindas orag lain. Prinsip ini beberapa kali saya uji coba dan Alhamdulillah semua jadi mudah. Tidak pernah saya menyikut paling hanya mempertahankan diri saja supaya kuat menahan desakann orang lain sambil pasrah dan dzikir istigfar. Akhirnya saya bisa juga menempelkan badan saya di Multazam dan berdoa sepuasnya.

Sejujurnya karena orang Indonesia kecil-kecil sering pula dibutuhkan strategi untuk sekedar mencium hajar Aswad ataupun berdoa di Multazam. Misalnya saya, ketika orang-orang yang didepan Multazam orangnya besar-besar, sudah pasti kita akan kalah tenaga, akhirnya saya mendekati Multazam lewat bawah, lewat bawah disela-sela orang besar tersebut walaupun terjepit namun akhirnya bisa juga nempel di Multam dan berdoa sepuasnya. Selama berdoa di Multazam biasanya dari belakang kita aka didorong-dorong jadi setelah nempel di dinding kabah Multazam biasanya susah juga untuk pergi sehingga kadang kita sampai kehabisan doa karena doa sudah dipanjatan berulang-ulang dan panjang lebar. Saking lamanya berdoa di Multazam dan kehabisan doa akhirnya saya malah dzikir syukur saja.

Indonesia Good

Jamaah haji dan umrah asala Indonesia terkenal karena keramah tamahannya dan banyak senyum. Sehingga tidak heran kalau di pertokoan ataupun diantara jamaah haji atau umrah begitu mengetahui kita dari Indonesia, mereka akan mengatakan Indonesia Good.

Ada juga yang mengucapkan salam pada kita, Indonesia Apa Kabar, walaupun dengan logat yang agak aneh.  Ini pengalaman saya. Jama empat pagi sehabis sholat malam dan tawaf saya mendadak mules dan segera keluar masjidil Haram dan menuju toilet.  Saya benar-benar tersiksa karena toilet yang saya cari tidak ketemu juga, padahal siang sebelumnya saya pernah ke toilet tersebut dan tidak jauh namun kali itu susah benar ditemukannya toilet itu.