Pengalaman Unik Dan Menarik Selama Umroh

Dua rakaat selesai aku bersyukur dan berdoa. Doa panjang lebar. Setelah selesai. Polisi atau askar menyuruhku untuk keluar namun aku menawar dan meminta satu kali lagi untuk sholat sunah dan polisi tersebut mengijinkan. Di raudhah yang luasnya hanya kurang lebih 144 meter tersebut, shalat memang harus bergantian. Semua orang yang sholat harus memberi kesempatan pada orang lain sehingga setelah sholat harus segera keluar atau akan disuruh pergi oleh polisi yang berjaga.

Sholat sunah dua rakaat aku tunaikan dan air mata terus mengalir. Rasa yang belum pernah ada itu hadir disana, di raudhah, tempat diantara mimbar Nabi SAW dengan rumah beliau yang sekarang menjadi makam beliau, tempat yang mustajab untuk berdoa. Setelah selesai dan berdoa dengan berurai dengan air mata barulah aku keluar melewati makam Rosulullah SAW. Kembali air mataku mengalir. Kupanjatkan sholawat untuk Nabi. Polisi-polisi didepan makam Rosulullah SAW menghalau orang-orang yang teralalu berlebihan meminta berkah.

Setelah sholat di raudhah kami keluar dan menuju tempat pamakaman umum di Baki yang jaraknya sangat dekat dari Masjid Nabawi, namun karena pintu gerbangnya ditutup kami akhirnya kembali ke hotel.

Satu jam menjelang sholat dzuhur saya pergi ke Masjidil Haram dan mendekat ke raudhah berharap bisa shalat dzuhur di raudhah. Orang-orang sudah berdiri dipingir raudhah yang masih disekat. Karena terlalu banyak yang ngantri dipinggir jalan saya tidak berharap untuk bisa masuk ke raudhah. Saya merasa cukup didekat raudhah saja dan saya kerjakan sholat sunah dan berdoa sebanyak-banyaknya, terutama doa-doa titipan dari banyak teman-teman.

Disaat berdzikir, dibagian belakang saya tiba-tiba terdengar suara gaduh dan orang-orang banyak yang bergerak kesana. Entah kenapa saya tiba-tiba berdiri dan ikut saja nimbrung. Rupanya penyekat raudhah sudah dibuka. Saya terdorong dan melihat orang-orang berlarian menuju raudhah yang sudah dibuka. Kalau pagi yang dibuka bagian kanan depan, sekarang bagian tengah belakang. Melihat hal tersebut saya berlari sekencang-kencangnya dan mencari tempat yang nyaman dan Alhamdulillah dapat tempat didepan tempat azan lurus dengan mimbar Nabi SAW. Saya bersyukur dan sholat sebanyak-banyaknya dan sepuasnya dan berdoa sebanyak-banyaknya terutama doa-doa titipan dan doa-doa untuk para supporter saya yang telah mengumrohkan saya dan memberi uang saku yang lebih, selebihnya aku berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang yang aku kenal. Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan sholat dzuhur di raudhah, bisa merasakan kekhusukannya, sensasinya. Kulihat disisi lain teman-temanku ternyata bisa juga masuk raudhoh. Seorang jamaah Indonesia merasa takjub mendengar kami bisa sholat di raudah padahal dia sudah tiga hari tidak bisa masuk kedalam raudhah. Alhamdulillah saya bisa, sudah jelas ini berkat rahmat Allah dan didukung oleh keinginan luhur.