Pengalaman Unik Dan Menarik Selama Umroh

Hari ketiga siang, kami memakai kain ikhram menuju Makkah, dan mengambil miqot di Bir Ali. Sepanjang jalan Ustadz pendamping mengajari kami semua tentang ihrom dan mengajak untuk membaca talbiyah.

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk, la syarii kalak.

Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.

Membaca talbiyah dan merenungi maknanya membuat saya tak kuasa membendung air mata. Hanya karena kuasa Allah semata saya bisa memenuhi panggilan-Nya datang ke Mekkah walaupun hanya umroh. Semua karena kekuasaannya, bahkan nikmat yang sedang saya rasakan itu adalah nikmat-Nya. Hampir sepanjang perjalanan saya mengeluarkan air mata walaupun hanya bertalbiyah dalam hati. Syukur teman saya tidur sepanjang perjalanan sehingga hanya Allah yang tahu kalau aku terus mencucurkan air mata.

Setelah shalat isya kami baru sampai di Mekkah. Setelah  makan malam dan shalat isya di hotel, kami terus menuju Masjidil Haram. Ustadz pembimbing memandu kami tentang doa atau niat dan lain-lainnya. Rasanya tidak percaya dan aneh ketika melihat Kabah. Alhamdulillah.

Selanjutnya kami langsung mengadakan tawaf di Kabah di akhiri shalat sunah di belakang maqom Ibrahim. Kemudian kami menuju safa untuk sa’i dan berhenti sebentar untuk minum air zam-zam. Setelah sa’i selesai kami langsung mengadakan tahalul atau memotong rambut dan selesailah prosesi ihrom. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi ketika kami kembali ke hotel. Kebanyakan teman istirahat namun saya lebih memilih untuk mandi dan kembali ke Masjidil haram untuk shalat sunah dan menunggu waktu subuh.

Alhamdulillah selama di masjdil haram saya bisa melakukan tawaf wajib, tawaf sunah dan tawaf wada sebanyak tujuh kali. Setelah shalat malam di Masjidil haram, atau setelah shalat subuh dan dzuhur saya melakukan tawaf. Alhamdulillah saya bisa juga mencium Hajar Aswad satu kali, berdoa di rukun Yamani satu kali, berdoa di Multazam tiga kali, di bawah pintu Kabah satu kali, di Hijr Ismail tiga kali, dan shalat sunah di belakang maqom Ibrahim hampir tak terhitung. Hampir semua pelosok (tempat) di Masjidil Haram saya singgahi untuk shalat, namun yang paling menyenangkan adalah shalat Jum’at di depan Hajar Aswad,walaupun barisan yang nomor sebelas (kira-kira segitu, sudah saya hitung) sehingga setelah selesai shalat saya bisa langsung menempel di Multazam dan berdoa sepuasnya.

Alhamdulillah semua jadi mudah. Prinsip saya, kalau benar saya adalah tamu Allah maka semua akan menjadi mudah. Alhamdulillah dari mencium hajar Aswad, shalat di Hijr Ismail, dan berdoa di Multazam semua mudah. Alhamdulillah.