Pengalaman Unik Dan Menarik Selama Umroh

Pertama kali mau mencium hajar Aswad memang agak susah karena banyak sekali orang-orang berdesakan untuk mencium hajar Aswad. Saya mencoba lewat sebelah kiri namun gagal dan disaat itu datang orang Indonesia menawarkan bantuan namun saya tolak, sudah tentu setelah mencium hajar aswad akan meminta bayaran yang mahal. Akhirnya saya memutar dan lewat sebelah kanan. Prinsip saya, kalau saya tamu Allah pasti saya akan dengan muda mencium hajar Aswad, dan Alhamdulillah tanpa haru mendesak saya berhasil mencium hajar aswad. Saya mencium hajar aswad sebanyak tiga kali dan selanjutnya saya menuju Multazam.

Melihat orang yang berdesak-desakkan di depan Multazam rasanya sangat susah untuk bisa menempel di Multazam dan menempel  di dinding Multazam untuk berdoa. Setelah terdesak sana-sini Alhamdulillah saya berhasil menempel di bawah pintu Kabah. Rasanya hampir setengah jam, tapi saya kira lima belas menit lebih saya berdoa disana bahkan sampai kehabisan doa dan kata walaupun sudah berulang-ulang dipanjatkan bahkan airmata yang mengalir deras sudah tidak bisa mengalir lagi. Saya panjatkan doa disana semua doa untuk para supporter umrah saya, doa-doa titipan, doa untuk teman-teman di kantor, doa untuk para tetangga dan keluarga.

Setelah berdoa saya istirahat di belakang maqom Ibrahim dan bertukar pikiran dengan jamaah umrah asal Indonesia yang kebetulan bertemu. Dari mereka saya ketahui bahwa bawah pintu Kabah bukanlah Multazam. Multazam yaitu antara hajar Aswad dan pintu Kabah. Kemudian saya segera menuju Multazam yang sebenarnya. Lagi-lagi terlihat orang-orang yang berdesak-desakkan didepan Multazam untuk memanjatkan doa. Rasanya sangat berat untuk bisa sampai menempel di Multazam, namun segera saya buang pikiran tersebut. Dengan bermodal istigfar saya mencoba mendekati Multazam dan Alhamdulillah  tidak butuh lama saya berhasil menempel di Multazam dan memanjatkan doa sepuasnya dengan diiringi air mata. Hampir setiap hari saya berdoa di Multazam bahkan sampai kehabisan doa sehingga saya hanya mengucapkan Alhamdulillah atas semua yang telah di berikan untuk berlama-lama di Multazam. Sebenarnya untuk mencapai Multazam sangatlah susah namun bila sudah menempel di Multazam juga susah untuk melepaskannya karena dari belakang kita didorong terus sehingga badan rasanya tidak bisa lepas dari Multazam.

Shalat di Hijr Ismail adalah salah satu yang menantang. Berdesakkan sudah pasti dan butuh kesabaran. Masuknya saja berdesakan dan shalatnyapun bergantian. Kadang baru saja kita takbir tiba-tiba dari depan datang rombongan yang mendorong kita sehingga dengan sangat terpaksa shalat dibatalkan, sebab kalau tidak dibatalkan maka kita akan jatuh menimpa orang lain yang sedang shalat juga. Ada kejadian menarik. Ketika susah untuk shalat, saya mencoba menolong orang lain yang sedang shalat supaya orang-orang tidak mengganggunya dan alhamdulillah  didepan saya malah jadi kosong sehingga saya bisa shalat dengan tenang.

Setelah tawaf biasanya dilanjutkan dengan shalat sunah di belakang makom Ibrahim, tapi kalau saya, kapanpun ada kesempatan, entah siang atau malam hari saya selalu menyempatkan shalat dibelakang maqom Ibrahim yang termasuk salah salah tempat yang mustajab untuk berdoa selain, rukun Yamani, Multazam, dan Hijr Ismail, sehingga di belakang makom Ibarihim ini hampir tak terhitung banyaknya saya melakukan shalat sunah.

Hari terakhir kami melakukan tawaf wada. Rasanya ada yang hilang di hati karena harus cepat keluar kota Mekkah sehingga dalam shalat terakhirku yaitu shalat Dzuhur dan shalat Ashar (di jamak), mata ini terus menerus mengeluarkan air mata dengan derasnya. Shalat terakhirku yang aku lakukan di halaman masjidil haram yang sangat terik sama sekali tidak terasa dibanding kesedihanku untuk meninggalkan Masjidil Haram. Rasanya ada rasa kangen untuk kembali ke Masjidil Haram walaupun saya belum beranjak dari Masjidil haram.