Tata Cara Mengamalkan Asmaul Husna

Posted on

Pada prinsipnya mengamalkan asmaul husna atau kalimat toyyibah itu boleh dengan cara apapun yang penting baik dan tidak menyalahi syariat. Berikut ini saya tuliskan tata cara mengamalkan asmaul husna yang saya salin dari diktat milik Ustad Rully Hasrul.

Tata Cara mengamalkan Asmaul Husna

  1.  Asma Allah itu jangan ditujukan kepada obyek keinginannya, diarahkan kepada yang diinginkan atau yang dituju, tetapi seharusnya nama Allah atau asama Allah tersebut harus ditujukan kepada Allah yang memiliki nama-nama tersebut dengan jalan ikhlas dan berserah diri kepada Allah. Jika waktu menyebut nama Allah tersebut kita bayangkan obyek atau keinginannya, maka bukan Allah yang hadir di hati kita, berarti bukan kepada Allah asmanya kita tujukan, berarti juga bukan kepada Allah kita berserah diri, dan berarti pula kita telah menyalahgunakan asama Allah tersebut. Sekalipun dalam hal atau cara ini bisa saja berhasil, tetapi jelas tidak akan mendapatkan ridho Allah karena telah menyimpangkan cara menggunakannya.
  2. Pada waktu kita menyebut Asma Allah, dalam kita beribadah atau menyembah Allah atau berserah diri kepada Allah, dengan mendahulukan “iyya kana’buduu” baru kemudian “wa iyya ka’nas taiin” jangan dibalik “iyya ka’nastaiin” yang didahulukan, baru kemudian ‘iyya kana’ buduu”. Menyembah dulu atau berserah dulu kepada Allah baru kemudian meminta pertolongan, jangan dibalik, minta dulu baru berserah diri kepada Allah, sebab nanti akan sia-sia saja keinginan kita, karena tidak akan terkabul dan tidak mendapat ridho Allah. Pada waktu kita berdzikir dengan asma Allah harus diiringi dengna pengahyatan. Sesuai dengan Qur’an Surat Al Araaf 205.¬† Menurut ayat ini cara dzikirnya :
  • Wadz kurrabaka fii nafsika, sebut nama Tuhanmu itu didalam hatimu – fii nafsika, atau didalam dirimu, didalam jiwamu, didalam qalbimu
  • Kemudian diiringi pula dengan “tadharu’an” dengan merendahkan diri, merasa diri rendah, hina, tunduk, pasrah kepada Allah, merasa tidak punya daya dihadapan Allah, merasa tidak punya kekuatan dan tidak mempunyai sedikit kekuatanpun tanpa pertolongan Allah.
  • Diiringi pula dengan ‘wakhiifatan”, penuh rasa takut, merasa gentar, harap-harap cemas, takut akan azab Allah, takut berbuat salah, takut kehilangan kasih sayang Allah SWT.
  • Selanjutnya, dzikirnya ‘ wa dunnaajahri minal qauli bil ghuduwwi wal aashaali” dengan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang. Dzikirnya sepanjang hari dari pagi sampai petang, berusaha sebanyak-banyaknya dzikir atau selalu ingat kepada Allah
  • Kemudian, “walaa takum minal ghafillin” dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai, dzikir kepada Allah jangan sambil melamun, alpa, lupa, atau memikirkan hal selain Allah sehingga dzikirnya lupa dari Allah atau dzikirnya tidak ingat kepada Allah.
  1. Pada waktu berdzikir menghayati asma-asma Allah jangan menyimpang dari tujuan atau tata cara tersebut diatas. Jangan disalah gunakan untuk diniatkan untuk kepentingan diri, untuk beladiri, mendatangkan jin, mendatangkan gaib, mempengaruhi orang lain, misalnya untuk ilmu pelet atau pengasihan, atau untuk ngelmu atau ilmu, misalnya ilmu kebal dan lain-lain. Jangan pula untuk maksud-maksud lain apalagi untuk maksud dan tujuan jahat. Hidarilah cara atau hal-hal yang bersifat syirik, kecuali hanya ikhlas karena Allah semata, dengan mengharap ridho Allah.

Semoga bermanfaat.